Senin, 11 Januari 2010 (HealthDay News) - sebuah asumsi pra penelitian menunjukkan bahwa kombinasi dari senyawa yang terdapat dalam ganja dapat membantu untuk melawan semua bentuk kanker otak yang sangat mematikan.
Namun temuan ini jangan sampai membuat penderita kanker otak untuk segera menghisap ganja, sebab kadar senyawa yang digunakan dalam penelitian terlalu tinggi jika dibandingkan dengan kadar senyawa yang didapat dari menghisap ganja. Dan belum dapat dibuktikan secara ilmiah secara laboratorium terhadap hewan-hewan percobaan, apalagi manusia!
Temuan ini menunjukkan bahwa lebih dari satu senyawa dalam ganja dapat membantu pengobatan kanker, kata peneliti Sean McAllister, seorang ilmuwan di California Pacific Medical Center Research Institute di San Francisco. "Kombinasi terapi mungkin butuh penelitian lebih lanjut" kata McAllister.
Para peneliti telah lama mempelajari senyawa dalam ganja yang dikenal dengan nama Kanabinoid, dan diasumsikan memiliki manfaat kesehatan. Senyawa lainnya dikenal sebagai THC, sangat dikenal karena memberikan efek "fly" bila menghisap ganja, Para peneliti telah menguji senyawa diatas sebagai pengobatan untuk tumor otak (glioblastomas).
Dalam penelitian terbaru, para peneliti menguji kombinasi THC dan cannabidiol pada sel-sel kanker otak yang kemudian di publikasikan pada Molecular Cancer Therapeutics edisi bulan Januari.
Penelitian menunjukan bahwa kombinasi senyawa diatas bekerja lebih baik dalam membunuh sel-sel kanker dan mencegah kanker untuk tumbuh kembali.
Sekitar 9.000 orang di Amerika Serikat menderita glioblastomas setiap tahunnya, kata Dr Paul Graham Fisher, Kepala Divisi Child Neurology di Stanford University dan Lucile Packard Children's Hospital. Penderita yang paling terkenal adalah almarhum Senator AS Ted Kennedy.
Prognosis untuk manusia memiliki kondisi yang buruk karena tumor menyebar ke seluruh otak. Dan mustahil untuk penyembuhan dengan menghilangkan seluruh tumor, kata Fisher.
"Tidak peduli apa yang Anda lakukan, tumor ini memiliki daya penyebaran yang lebih luas daripada yang pernah Anda bayangkan" katanya. "Jika kita menemukan spot tumor pada satu sisi otak dan tak lama kemudian kita menemukan spot yang lain di sisi otak yang lain pula. Satu-satunya hal untuk melawan penyakit ini adalah sesuatu yang dapat memberikan perlindungan".
Dia menjelaskan, daripada memfokuskan terhadap tumor itu sendiri, pengobatan sebaiknya memutus rantai komunikasi antar sel tumor.
Secara global, "Terlalu banyak asumsi dalam pengobatan glioblastoma," katanya. "Saya kira dalam waktu 10 sampai 15 tahun kita akan mulai melihat kemajuannya"
Untuk saat ini, katanya, TIDAK ADA bukti bahwa ganja itu baik atau buruk bagi glioblastoma.
Kembali di laboratorium, kata McAllister langkah berikutnya adalah dengan menguji kombinasi senyawa pada hewan percobaan dan kemudian pada manusia.
Terapi dapat diberikan kepada manusia secara langsung melalui otak, dan tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun senyawa itu sendiri mungkin tidak mahal, kata McAllister.
Ada sebuah gagasan untuk mendapatkan efek yang sama dengan melakukan hisap ganja, dan McAllister mengatakan: "Kadarnya tidak mungkin dapat dicapai dengan MENGHISAP GANJA"
sumber : HealthDay News
Senin, 11 Januari 2010
Ganja Dapat Menyembuhkan Kanker Otak
Galilah Lebih Dalam
Sebuah perusahaan tambang emas di Amerika merekrut seorang ahli tambang yang punya reputasi baik dan terkenal. Membayangkan prospek galian emas yang sangat menggiurkan perusahaan ini berani mematok bayaran tinggi kepada ahli tambang ini.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, insinyur tambang ini kemudian men-set tim dan menyiapkan perlengkapan tambang yang paling modern di kala itu. Maka dimulailah pengerjaan penambangan, menggali lokasi yang diduga mempunyai mempunyai tanah yang mengandung bulir-bulir emas di dalamnya. Seluruh tim dikerahkan, seluruh teknik penambangan mutakhir dimanfaatkan.
Tahun pertama telah dilalui oleh tim ini tanpa hasil emas yang bararti. Yang didapati hanyalah tanah hitam yang keras. Penggalian pun berjalan seperti melamban. Para penggali tambang mulai kelelahan dan kehilangan semangat. Sang insinyur tambang harus memompakan keyakinan agar timnya tidak loyo.
Tahun kedua telah terlewati. Tak juga tambang ini menghasilkan emas seperti yang diimpikan. Seluruh tim kelihatan tak lagi punya harapan. Yang disalahkan adalah perencanaan tambang yang salah dalam mencari lokasi. Reputasi sang ahli tambang mulai dilecehkan. Ia sendiri gamang dan menjadi menyesal. Ia merenungi perencanan dan perkiraan yang salah sehingga merugikan industri tambang yang ia pimpin.
Dalam keputusasaan itu tepat dua tahun usia lokasi penambangan itu, ia menutup lokasi tambang tersebut. Dalam catatannya kepada pemilik perusahaan dia menulis “penelitian tim ahli saya akan potensi tambang ini mungkin salah, lahan ini benar-benar tak mengandung emas”. Tambang ini dijual murah.
Di awal tahun ketiga, pemilik baru tambang terlihat di halaman depan surat kabar waktu itu dalam pose memegang bungkil-bungkil emas dengan tersenyum lebar. Ia berhasil menemukan emas dalam jumlah besar, sesuai dengan perkiraan perencanaan tim ahli pertambangan. Sang pemenang ini ketika ditanya kiat suksesnya mengatakan “Dig Little More”. Ya! Gali Lebih Dalam Lagi!...
Cerita ini semoga memompakan semangat kepada kita untuk tak putus asa di tengah perjuangan. Karena kesuksesan selalu saja milik pribadi yang ulet dan sabar. Maka ketika di ujung doa harapan kita terselip kata “di manakah pertolongan itu?”, maka tancapkan di dada kita bahwa pertolongan Allah SWT teramat dekat. Teruskan berikhtiar. Gali Lebih Dalam Lagi !. Karena kemenangan dan pertolongan Allah adalah janji yang pasti.
Manusia Super
Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi tuk coba taklukkan ibukota negeri ini. Semoga kita selalu diingatkan.
Siang itu, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas jembatan penyeberangan Setiabudi.
Dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan "Terima kasih Oom!". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.
Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki-laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki-laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, sekali lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka.
Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan melirik kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.
Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.
"Terima kasih ya mbak, semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.
"Maaf, nggak ada kembaliannya, ada uang pas nggak mbak?" mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak sekitar empat meter.
"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?" sahutnya. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.
"Nggak punya!" tukas saya, lalu tak lama si wanita berkata :
"ambil saja kembaliannya, dik!" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.
Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang :
"sudah buat kamu saja, nggak apa-apa ambil saja!".
Namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut.
"maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!"
Akhirnya uang itu diterima si wanita karena sikecil pergi meninggalkannya.
Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar :
"Om, bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek!".
"eeh..nggak usah ..nggak usah..biar aja..nih!" saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.
Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya,
"Nanti dulu Om, biar ditukar dulu..sebentar",
"Nggak apa-apa, itu buat kalian" lanjut saya,
"Jangan..jangan Om, itu uang om sama mbak yang tadi juga" anak itu bersikeras,
"Sudah..saya Ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas!" saya berusaha membargain,
namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.
"Ini deh om, kalau kelamaan, maaf.." ia memberi saya delapan pack tissue,
"Buat apa?" saya terbengong,
"Habis teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu" walau dikembalikan ia tetap menolak.
Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai sikecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.
"Terima kasih Om!", mereka kembali keujung jembatan sambil sayup-sayup terdengar percakapan :
"Duit mbak tadi gimana?" suara kecil yang lain menyahut :
"lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin lagi...", percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.
Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain , mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue.
Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.